Pilihan


Ketika melihat para lulusan SMU yang mendaftar untuk ikut ujian saringan masuk STAN pagi ini, pikiranku terbang jauh ke 4 tahun yang lalu. Saat itu aku baru saja lulus dari SMU Negeri 1 Makassar. Aku lulus SMU dan diterima di Teknik Industri UNDIP dengan mengikuti Program PPSB atau dikenal dengan PMDK. Langsung saja, setelah lulus aku langsung terbang ke Semarang, sedangkan kedua orangtuaku masih tinggal di Makassar. Setelah registrasi ulang di UNDIP, aku mengikuti ujian matrikulasi. Ternyata aku lulus matrikulasi, artinya aku tidak perlu ikut matrikulasi selama satu bulan. Aku menganggur 1 bulan di rumah, sementara teman2ku yang sempat kukenal mengikuti matrikulasi.


Selama satu tahun aku kuliah di Teknik Industri UNDIP. Bisa dikatakan aku sudah mendapatkan nama di Program Studi tersebut. Aku memiliki sahabat, aku mendapatkan berbagai amanah, Indeks prestasiku bagus, dan lain sebagainya yang kesemuanya sangat berat untuk dilepaskan. Hingga akhirnya, aku ditawarkan oleh orantuaku untuk mendaftar STAN. Saat itu spontan aku menolak. Tapi sehari kemudian, aku menerima tawaran itu.


Aku pun mendaftar ujian saringan masuk STAN. jika diingat lagi, betapa saat itu perjuangan untuk mengikuti ujian saja sungguh sangat besar. Harus naik motor dari semarang dengan sahabatku, Siswadi (al-akh yang sekarang entah bagaimana kabarnya. Semoga selalu dalam bimbingan Allah SWT). mengantri panjang di bawah teriknya matahari, berdesakan, mengisi formulir di lantai, lesehan. Kemudian nginap di rumah beliau satu malam. Ikut ujian saringan masuk, nginap di kosan temen yang sebelumnya belum pernah kukenal. Begitulah kira-kira perjuangan tersebut, yang notabene kupersembahkan untuk kedua orangtuaku.


Hingga pengumuman itu keluar. Aku pergi ke warnet dengan harap-harap cemas. Di satu sisi, aku lebih suka Teknik Industri, di sisi lain aku juga berharap dapat lulus STAN. Di layar komputer warnet, kulihat ada namaku di situs http://www.depkeu.go.id....namaku/ tercantum sebagai salah seorang yang lulus di STAN spesialisasi Kebendaharaan Negara. Saat itu aku bahagia membaca pengumuman itu.


Setelah tiba di rumah, aku menceritakannya kepada kedua orangtuaku, lantas beliau berdua memberikan kebebasan pada saya untuk memilih. Sungguh, ini sebuah pilihan yang berat. Sebuah pilihan yang susah menurutku. Aku minta pertimbangan dari beberapa sahabat, teman yang ada di STAN, juga kepada Dzat Yang Maha Memberi Pertimbangan dan Maha Memberi Keputusan.


Ya, di mana aku berdiri sekarang, ini adalah hasil dari menentukan sebuah pilihan. Pilhan dalam hidup yang sering terjadi. Dalam menentukan pilihan, kita memerlukan pertimbangan dari berbagi pihak, terkhusus kepada Dia, allah Yang maha Memberi Pertimbangan dan Maha Memberi Keputusan.