Bekam dan Pijat Refleksi

Label: ,

Seingat saya, pertama kali bekam saat tingkat 2 di Diploma III STAN. Sejak saat itu, saya bisa dikatakan rutin mendatangi tempat bekam di pondok safari. Saya merasakan manfaat dari bekam, sebelum dan sesudah bekam memang sangat berbeda sekali rasanya di tubuh ini, terasa lebih segar, bahkan hanya beberapa saat setelah dibekam. Biasanya saya minta di bekam di titik kesehatan (ada 3 titik) dan di titik racun (ada 2 titik). Kalo lagi pusing, biasanya ditambah dengan di titik pelipis. Subhaanallah, hasilnya memang terasa. Beginilah kalau memang disunnahkan oleh Rasulullah saw, pasti insya Allah bermanfaat.

Sedangkan pijat refleksi, saya pertama kali saat di tingkat matrikulasi STAN. Awal tahu tempat refleksi yaitu pada waktu magang di kantor pusat BPK, sering melewati jalan menuju stasiun Pondok Ranji. Dan ketika kembali bersekolah, saya jadi inget pernah lihat tempat refleksi itu. Awalnya cuma penasaran pengen nyoba, kayaknya enak kalo dipijet. Meluncurlah saya ke tempat bekam di daerah Pondok Ranji Bintaro. Alhamdulillah saya juga merasakan manfaat dari dipijet refleksi ini. Badan jadi segar, walau setelah dipijet biasanya jadi lemes dan bawaannya pengen tidur. Tapi keesokan harinya, badan terasa segar. Apalagi dibawa untuk olahraga, insya Allah menyehatkan.

Nah, sekarang, setelah menikah dan bertempat tinggal di Utan kayu, sehingga menuntut saya untuk pergi pulang Utan kayu-Bintaro, saya mencoba untuk merutinkan bekam dan refleksi, sebulan sekali. Sebagai salah satu ikhtiar untuk menjaga kesehatan, di samping minum suplemen, seperti: habatus sauda, madu, sari kurma, chlorophyll, dan jahe merah. Alhamdulillah kesehatan terjaga, meski beberapa kali sakit. Sakit juga kita perlukan, sebagai sarana mengistirahatkan tubuh, sarana untuk lebih ingat pada Allah, dan lebih bersyukur atas karunia sehat yang Allah berikan.

Ada dua nikmat Allah yang sering kali dilupakan oleh manusia, yaitu nikmat sehat dan nikmat memiliki waktu luang. Semoga Allah menolong kita agar dapat bersyukur atas nikmat-nikmatNya.

also posted at: www. dinoyudha.wordpress.com and www.dinoyudha.multiply.com





Mulai Berbisnis Online

Bismillahirrohmaanirrohiim
Awalnya, saya sempat tahu tentang bisnis online ini saat saya PKL di Semarang tahun 2007. Saat itu saya mendapat informasinya dari googling -searching di mbah google-. Kemudian beberapa hari sempat baca-baca artikel dan informasi terkait bisnis online. Saya tertarik. Namun ada satu hal yang saya masih ragukan, yaitu mengenai kehalalan bisnis ini. Saya mencoba cari tahu, dan ternyata ada bisnis online yang halal dan ada juga yang haram. Namun keraguan masih belum hilang juga, hingga akhirnya saya lupa akan ketertarikan saya pada bisnis online itu.

Kemudian, belakangan ini saya kembali tertarik untuk mencari tahu tentang bisnis online, karena alhamdulillah, saya diamanahi oleh Allah untuk memiliki koneksi internet sendiri di rumah, jadi memudahkan saya untuk mencari informasi ini kapan saja di rumah (kalo waktu sholat ya sholat...)... Banyak situs yang menawarkan berbagai hal tentang bisnis online yang mereka ketahui dan miliki, tentunya ada harga yang harus dibayar. Hingga akhirnya, saya sampai pada situsnya "dek" Haryo Prabowo, seorang internet marketer muda.

Kemudian saya teliti mekanisme bisnisnya, insya Allah yang dia lakukan halal secara syariah, insya Allah, karena yang dia lakukan adalah menjual barang berupa ilmu dan saya membelinya. Alhamdulillah, kemarin saya membelinya, dan sekarang sedang dalam tahap belajar. Kalau teman-teman ingin belajar bareng, bisa baca informasi lebih lanjut di sini. Yuk belajar bersama, dan insya Allah bisa menghasilkan uang tambahan, agar bisa lebih banyak berinfak dan berzakat.



Ponsel di Pesawat? OK Saja (di Eropa)


Itulah peringatan yang kini selalu kita dengar setiap kali masuk ke pesawat terbang. Seperti juga kita baca di majalah Garuda Indonesia, ada alasan kuat mengapa awak pesawat selalu mengingatkan penumpang agar mematikan telepon seluler saat di dalam kabin pesawat.
Menurut penjelasan Garuda, dan juga maskapai penerbangan pada umumnya, pesawat terbang modern banyak sekali bergantung pada gelombang radio untuk menjalankan berbagai fungsi, termasuk komunikasi dengan menara kontrol dan navigasi. Interferensi gelombang radio yang berasal dari telepon seluler (ponsel) dapat mengacaukan fungsi-fungsi ini.
Pengguna ponsel mungkin tidak menyadari bahwa dalam keadaan standby pun ponsel tetap memancarkan sinyal elektromagnetik yang memberi tahu komputer di jaringan seluler bahwa ponsel dalam keadaan aktif, dan oleh karena itu dapat dihubungi. Sinyal semakin kuat ketika pemancar di base transceiver station (BTS) berkomunikasi dengan ponsel untuk menyampaikan panggilan ataupun mengirimkan pesan singkat SMS.
Padahal, setelah pesawat tinggal landas dan mendekati ketinggian jelajah, ponsel tidak dapat berfungsi karena jarak dari BTS ke pesawat terlalu jauh dan pesawat bergerak terlalu cepat. Karena itu, sebelum terdeteksi dan terdaftar di salah satu sel jaringan seluler, ponsel sudah meninggalkan sel tersebut. Pada sisi lain, ponsel terus saja memancarkan sinyal elektromagnetik yang berisiko mengganggu berbagai peralatan penerbangan.
Atas dasar itu, demi keselamatan penumpang, Anda diwajibkan mematikan ponsel begitu memasuki kabin pesawat.
Sudah OK di Eropa
Namun, apa yang masih umum dipraktikkan di maskapai penerbangan kini sudah akan dianulir di Eropa. Airbus, seperti dilaporkan Thomas Crampton (IHT, 21/6), mengumumkan regulator Eropa sudah memperbolehkan penggunaan ponsel dan peralatan BlackBerry (yang banyak digunakan untuk mengirim dan menerima e-mail) untuk penumpang udara.
Dengan persetujuan Badan Keselamatan Penerbangan Eropa, mulai bulan September nanti penumpang pesawat Airbus, yang dilengkapi dengan sistem OnAir, bisa mengirim dan menerima panggilan telepon, pesan teks singkat (SMS) dan e-mail ketika terbang pada ketinggian di atas 9.800 kaki (2.987 meter).
Pesawat pertama yang akan beroperasi dengan sistem ini boleh jadi adalah pesawat jarak pendek Airbus A318 yang dioperasikan oleh Air France. Maskapai Inggris BMI, maskapai Portugal TAP, dan maskapai tarif murah Ryanair juga telah menandatangani kesepakatan untuk menyediakan layanan OnAir, yang dikembangkan bersama oleh Airbus dan SITA, sebuah perusahaan layanan komunikasi.
Namun, perlu ditegaskan bahwa regulasi ini berlaku hanya di Uni Eropa. Masih dibutuhkan waktu sebelum perubahan bisa dilakukan di tempat lain.
Menurut Graham Lake, Chief Commercial Officer OnAir, tarif percakapan ponsel di pesawat diperkirakan 2,5 dollar AS per menit dan 50 sen dollar per SMS.
Seperti diuraikan oleh Lake, roaming (penjelajahan) tidak lagi antarnegara, tetapi penjelajahan udara. Telepon akan diteruskan via satelit dan diturunkan ke jaringan GSM.
25 persen masih hidup
Persetujuan penggunaan ponsel di pesawat di Eropa ini memang bertentangan dengan pelarangan tegas yang diterapkan oleh maskapai penerbangan. Namun, tampaknya ada fakta lain yang dijadikan landasan untuk mengubah situasi. Studi OnAir menemukan fakta bahwa 10-25 persen penumpang dan awak kabin tidak mematikan ponsel mereka di dalam kabin meskipun sudah diberi peringatan tegas.
"Kalau memang ponsel tidak aman di pesawat, mestinya sudah ada banyak kecelakaan," ujar Lake.
Atas dasar itu ia menyimpulkan bahwa penggunaan ponsel (di pesawat) lebih merupakan (soal) kultur daripada keselamatan. Walaupun ada orang yang tidak sungkan-sungkan menelepon dengan didengar banyak orang, sebenarnya ada banyak orang yang keberatan kalau lingkungan sekitar berisik karena orang menelepon keras-keras. OnAir mengantisipasi akan sulit mengubah keadaan di negara-negara yang penentangannya sangat kuat terhadap penggunaan ponsel di pesawat.
Salah satu argumen yang digunakan OnAir untuk memperoleh persetujuan adalah bahwa ponsel yang (secara tak sengaja) dibiarkan aktif oleh penumpang akan meningkatkan sinyal output yang berpotensi mengganggu frekuensi radio saat berada di luar jaringan seluler.
Kerisauan lain
Penggunaan sistem OnAir dibatasi hanya untuk ketinggian di atas 3.000 meter, yang dicapai sekitar empat menit setelah tinggal landas, dan bisa terus digunakan hingga 10 menit sebelum pendaratan. Namun, ini lebih terkait dengan operasi operator, yang mengkhawatirkan muncul gangguan bila satu panggilan telepon dari udara ditangkap oleh sejumlah menara seluler di darat.
Isu lain yang juga muncul sehubungan dengan rencana penggunaan ponsel di pesawat adalah privasi. Sejauh ini orang merasa bahwa satu-satunya lingkungan yang masih ada agar terbebas dari ponsel adalah di pesawat. Menanggapi kekhawatiran ini, Lake yakin bahwa etiket masih akan ada ketika orang menelepon di pesawat. Ia meminta maskapai penerbangan bisa menegaskan perlunya perilaku menghormati dari pengguna.
Namun, masalah tidak berhenti di situ karena ada perbedaan kebiasaan di masing-masing suku bangsa. Ada yang masih menganggap sopan untuk menaruh ponsel di atas meja saat rapat dan menjawabnya saat ponsel berdering, sementara hal semacam itu tak sopan di Inggris.
Untungnya ada mekanisme untuk mengendalikan situasi. Misalnya, manakala diperlukan, layanan yang bisa disediakan hanya untuk kirim dan terima SMS dan maskapai penerbangan bisa menutup layanan penerimaan telepon pada penerbangan jarak jauh di malam hari.
Bagi pengguna laptop, sistem ini menyediakan pula layanan WiFi kecepatan tinggi di pesawat, dengan kecepatan serupa dengan yang ada di kantor atau rumah.
Sekadar catatan, penyediaan layanan konektivitas di udara seperti yang akan disediakan oleh OnAir ini sebenarnya bukan yang pertama. Pesaing Airbus, yaitu Boeing, sebelum ini pernah menyediakan layanan Internet Connexxion, tetapi belum lama ini ditutup karena penumpang kurang berminat sehingga kurang pemasukan.
Penyediaan layanan ponsel di pesawat pun masih menyisakan sejumlah masalah. Namun, perusahaan seperti OnAir tidak mau berhenti dalam situasi status quo, yaitu saat penumpang yang berada dalam penerbangan tak mendapat kemudahan komunikasi, yang—apa pun latar belakangnya—memang acap sulit ditinggalkan.




Kekuatan Silaturrahim dalam Bisnis


Setiap aktiviats kita akkan bernilai ibadah atau tidak, tergantung pada tujuan/niat dari aktivitas tersebut. oleh karena itu, niat menjadi tolok ukur untuk suatu aktivitas. Bernilai ibadah atau tidak, tergantung niatnya. Apakah untuk mencari ridho Allah atau karena tujuan lain.

Begitu pula dalam bisnis. Bisnis yang kita jalani akan berkah atau tidak tergantung niat kita. makaya niat dalam berbisnis harus selalu kita murnikan. karena siapa tahu malah menyimpang dari tujuan semula.

Selain untuk mencari keridhoan Allah, kita juga harus meniatkan silaturahim dalam setiap aktivitas bisnis. Makin banyak mitra bisnis kita, harus makin sering kita bersilaturahim. Makin sering kita bersilaturahim, maka peluang bisnis kita pun akan makin terbuka.

Silaturahim memiliki kekuatan yang kan memperkokoh ikatan persaudaraan dan jaringan usaha. Hal ini bisa kita rasakan. Salah satu contohnya, bila terjadi suatu perbedaan atau konflik dengan mitra kita. Bila berinisiatif untuk bersilaturahim, insya Allah suasana hubungan yang tadinya tegang akan segera cair. Dan prasangka buruk terhadap pihak lain/mitra pun akan hilang.

Allah SWT memerintahkan umat manusia agar menjaga hubungan persaudaraaan dan menghubungkan silaturahim. Seperti di dalam firman-Nya, "Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (Q.S. An-Nisaa,4:1)

Dengan demikian, menjaga silaturahim merupakan bagian dari amal shalih. Dan tentu saja bagi para pebisnis, manfaatnya pasti sudah kita rasakan. Manfaat dari silaturahim pernah pula diungkapkan Rasulullah saw dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Al hakim, Rasulullah saw bersabda, "barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya, diluaskan rizkinya, dan ditolakkan darinya kematian yang buruk, hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan menyambungkan tali silaturahim."

Untuk itu mari kita jadikan silaturahim sebagai salah satu tujuan dalam berbisnis. Karena insya Allah, dengan tujuan tersebut bisnis kita akan menjadi berkah.




How to get money?


Beberapa hari ini pikiranku selalu terusik oleh pertanyaan, "Bagaimana mendapatkan uang yang banyak dengan cepat, halal dan baik?" Memang, pikiranku langsung menjawab dengan bisnis. Tapi bisnis seperti apa itu? Browsing internet, menemukan internet marketing atau bisnis online, tapi kendalanya saya harus diajarin dulu. Anne Ahira bersedia ngajarin sih, tapi harus bayar 199.000 rupiah per bulan...Lagipula, pikirku kayaknya ribet banget...Ya, itu emang pikiran orang yang belum pernah tersentuh oleh bisnis online sih...Mungkin kalo ada yang ngajarin aku, aku akan mengatakan bisnis online keren.

Lalu, otakku masih searching, kira-kira bisnis apa ya? Ada sih bisnis yang sekarang aku jalankan, udah berjalan, dan dikelola ama temen. Pengen nyari bisnis yang lain. Tapi apa ya? Ada yang mau ngajak aku berbisnis?

Kayaknya sih bisnis online ini tepat deh, tapi ya itu tadi, aku butuh temen yang ngajarin. Ada yang udah sukses selain anne ahira gak? Yang bersedia ngajarin aku cuma-cuma?





Pilihan


Ketika melihat para lulusan SMU yang mendaftar untuk ikut ujian saringan masuk STAN pagi ini, pikiranku terbang jauh ke 4 tahun yang lalu. Saat itu aku baru saja lulus dari SMU Negeri 1 Makassar. Aku lulus SMU dan diterima di Teknik Industri UNDIP dengan mengikuti Program PPSB atau dikenal dengan PMDK. Langsung saja, setelah lulus aku langsung terbang ke Semarang, sedangkan kedua orangtuaku masih tinggal di Makassar. Setelah registrasi ulang di UNDIP, aku mengikuti ujian matrikulasi. Ternyata aku lulus matrikulasi, artinya aku tidak perlu ikut matrikulasi selama satu bulan. Aku menganggur 1 bulan di rumah, sementara teman2ku yang sempat kukenal mengikuti matrikulasi.


Selama satu tahun aku kuliah di Teknik Industri UNDIP. Bisa dikatakan aku sudah mendapatkan nama di Program Studi tersebut. Aku memiliki sahabat, aku mendapatkan berbagai amanah, Indeks prestasiku bagus, dan lain sebagainya yang kesemuanya sangat berat untuk dilepaskan. Hingga akhirnya, aku ditawarkan oleh orantuaku untuk mendaftar STAN. Saat itu spontan aku menolak. Tapi sehari kemudian, aku menerima tawaran itu.


Aku pun mendaftar ujian saringan masuk STAN. jika diingat lagi, betapa saat itu perjuangan untuk mengikuti ujian saja sungguh sangat besar. Harus naik motor dari semarang dengan sahabatku, Siswadi (al-akh yang sekarang entah bagaimana kabarnya. Semoga selalu dalam bimbingan Allah SWT). mengantri panjang di bawah teriknya matahari, berdesakan, mengisi formulir di lantai, lesehan. Kemudian nginap di rumah beliau satu malam. Ikut ujian saringan masuk, nginap di kosan temen yang sebelumnya belum pernah kukenal. Begitulah kira-kira perjuangan tersebut, yang notabene kupersembahkan untuk kedua orangtuaku.


Hingga pengumuman itu keluar. Aku pergi ke warnet dengan harap-harap cemas. Di satu sisi, aku lebih suka Teknik Industri, di sisi lain aku juga berharap dapat lulus STAN. Di layar komputer warnet, kulihat ada namaku di situs http://www.depkeu.go.id....namaku/ tercantum sebagai salah seorang yang lulus di STAN spesialisasi Kebendaharaan Negara. Saat itu aku bahagia membaca pengumuman itu.


Setelah tiba di rumah, aku menceritakannya kepada kedua orangtuaku, lantas beliau berdua memberikan kebebasan pada saya untuk memilih. Sungguh, ini sebuah pilihan yang berat. Sebuah pilihan yang susah menurutku. Aku minta pertimbangan dari beberapa sahabat, teman yang ada di STAN, juga kepada Dzat Yang Maha Memberi Pertimbangan dan Maha Memberi Keputusan.


Ya, di mana aku berdiri sekarang, ini adalah hasil dari menentukan sebuah pilihan. Pilhan dalam hidup yang sering terjadi. Dalam menentukan pilihan, kita memerlukan pertimbangan dari berbagi pihak, terkhusus kepada Dia, allah Yang maha Memberi Pertimbangan dan Maha Memberi Keputusan.




Merekah


Lihat bunga ini...indah ya?
Sebagai layaknya bunga yang sedang merekah, ya tentu lagi semangat-semangatnya belajar kan? Manfaatkan waktu dan kesempatan untuk menyerap ilmu...Pasti suatu saat ilmu itu berguna. percaya kan? Coba deh!!!




Bisnis itu asyik


Ternyata berbisnis itu asyik ya? senang saat menerima uang...bisa langsung bersyukur kepada Allah swt. Jadi teringat sebuah kalimat yang bagus, "Ketika kita minum air panas maka kita akan sulit untuk mengucap hamdallah, tapi ketika meminum air yang dingin, maka kita akan mudah mengucap hamdallah" Nah, jika dianalogikan, maka "Kita akan mudah mengucap hamdallah saat menerima uang dari hasil bisnis kita, tapi mungkin akan susah kalo menerima gaji bulanan dari hasil kerja kita sebagai pegawai atau karyawan".... Ini bukan sebagai bentuk pernyataan bahwa para pegawai atau karyawan jarang mengucap hamdallah....Hanya ingin mengingatkan saja, ucapan terima kasih dan hamdallah adalah salah satu bentuk wujud syukur kita kepada Allah SWT...Jadi, sering-sering ucap hamdallah ya!!!